Sekitar tahun 2007 hingga 2011, ada masa ketika sebuah HP bukan hanya digunakan untuk menelepon, mengirim SMS, atau bermain game. Bagi saya, HP juga menjadi alat untuk membangun sesuatu yang lebih besar: sebuah website sendiri di internet.
Bagi sebagian orang, website hanyalah kumpulan halaman yang berisi teks, gambar, dan tautan. Namun, bagi saya, website-website kecil yang pernah dibuat dulu menyimpan cerita yang jauh lebih besar dari tampilannya.
Saat itu, saya belum memiliki perangkat seperti laptop atau komputer untuk mengerjakan semuanya. Bermodalkan HP Nokia, browser bawaan maupun Opera Mini Handler yang sudah dimodifikasi (handler mod), koneksi internet yang kadang harus dicari sinyalnya, dan rasa penasaran yang cukup besar, saya mulai membuat serta mengelola beberapa website.
Dunia internet saat itu tentu sangat berbeda dengan sekarang. Website WAP, layanan hosting gratis, CMS, buku tamu, forum, dan banner menjadi bagian dari keseharian. Ada kepuasan tersendiri ketika berhasil membuat halaman baru, mengubah tampilan website, atau melihat ada pengunjung yang meninggalkan pesan.
Hari ini, setelah bertahun-tahun berlalu, saya mencoba membuka kembali beberapa alamat yang pernah saya bangun dan kelola. Ada Upick, Molibagu, Bolsel Blog, dan beberapa website lainnya yang sebagian masih bisa ditemukan melalui arsip internet.
Ternyata, bukan hanya halaman-halaman lamanya yang membuat saya bernostalgia. Saya justru teringat bagaimana semuanya dimulai, perangkat yang digunakan, keterbatasan koneksi internet, hingga berbagai percobaan kecil yang dulu terasa begitu menyenangkan.
upick.xtgem.com: Sebuah website kecil yang pernah menjadi rumah
Membuka kembali
upick.xtgem.com terasa seperti membuka halaman lama dari sebuah buku harian. Saya langsung mengenali susunannya.Buku Tamu berada tepat di sebelah Home. Di bawahnya terdapat menu Game, Wapmaster Area, dan Counter, lalu deretan banner kecil yang mengarah ke website lain. Tidak ada desain modern, tidak ada animasi rumit, apalagi tampilan responsif seperti website sekarang. Semuanya sederhana, bahkan mungkin terlihat berantakan bagi orang yang baru melihatnya hari ini.
Namun, justru di situlah letak keistimewaannya 😁
Tulisan besar "UPICK SIMPLE WAP" masih terpampang di bagian atas. Warna biru muda, menu yang bertumpuk, dan susunan halaman yang khas langsung membawa saya kembali ke masa itu.
Saya tidak ingin membayangkan ulang tampilannya menjadi lebih bagus atau lebih modern. Saya justru ingin mengingatnya sebagaimana adanya. Sebab, setiap warna, menu, dan susunan halaman tersebut adalah bagian dari pengalaman yang pernah saya jalani.
Di masa itu, memiliki website sendiri saja sudah menjadi sesuatu yang membanggakan.

Mengelola website dari Nokia Symbian, ditemani perjuangan mencari sinyal
Salah satu hal yang paling saya ingat adalah HP Nokia berbasis Symbian yang saya gunakan saat itu. Sayangnya, saya sudah lupa tipe persisnya. Yang masih saya ingat, bentuknya cukup tebal dengan bagian bawah yang sedikit melengkung.
Dulu, saya membuat dan mengedit halaman langsung melalui HP. Editor yang tersedia di hosting atau layanan web menjadi tempat saya mengerjakan semuanya. Tidak ada VS Code, tidak ada terminal dengan berbagai extension, tidak ada workflow Git seperti yang biasa digunakan sekarang.
Saya membuka halaman, mengedit isinya, menyimpan perubahan, kemudian melihat hasilnya langsung dari browser HP.
Kedengarannya sederhana, tetapi ada satu hal yang sering menjadi tantangan: jaringan internet.
Sebelum mulai mengedit atau membuat konten, terkadang saya harus mencari tempat atau posisi yang mendapatkan sinyal lebih baik. Tidak semua tempat memungkinkan untuk mengakses internet dengan nyaman. Jadi, selain memikirkan apa yang ingin dibuat, saya juga harus memikirkan dari mana pekerjaan itu bisa dilakukan.
Seingat saya, waktu itu jaringan di daerah saya masih didominasi G (GPRS) dan E (EDGE). Saya juga pernah membaca pesan di buku tamu yang membagikan trik penggunaan APNAHAdan3GPRS, yang katanya bisa membuat koneksi lebih stabil. 😄
Bayangkan, ingin mengubah satu halaman website saja terkadang harus menunggu sampai menemukan posisi dengan jaringan yang stabil.
Namun, anehnya, semua itu tidak terasa sebagai beban. Justru ada kepuasan tersendiri ketika berhasil menyelesaikan sesuatu dengan keterbatasan yang ada.
Kemudian, ketika Android mulai ramai dan saya mulai merasakan koneksi dengan indikator H bahkan H+, semuanya terasa berubah begitu cepat. Mengakses internet, membuka halaman, dan mengelola website mulai terasa lebih nyaman.
Sekarang, ketika koneksi internet sudah menjadi sesuatu yang hampir selalu tersedia, saya justru sering teringat masa ketika mendapatkan sinyal yang bagus saja bisa menjadi alasan untuk merasa senang.
Membangun beberapa website dengan identitas berbeda
Upick ternyata bukan satu-satunya website yang pernah saya bangun. Pada masa itu, saya juga mengelola beberapa website lain dengan nama dan identitas berbeda, di antaranya Bolsel Blogs, Bolsel Wap, Molibagu Wap, dan Molibagu Web.
Masing-masing memiliki alamat, tampilan, dan susunan halaman sendiri. Jika sekarang kita terbiasa memiliki beberapa proyek website yang dikelola melalui satu dashboard atau repository, dulu semuanya terasa seperti membangun dunia kecil yang berbeda-beda di internet.
Salah satu yang masih bisa saya temukan kembali adalah Molibagu Creative Generation.

Nama tersebut masih terlihat pada halaman utamanya, sementara bagian atas menampilkan tulisan "MOLIBAGU LIPU'U". Di bawahnya terdapat berbagai menu, mulai dari download, terjemahan online, halaman teman, hingga tautan Wapmaster yang mengarah ke website Upick.
Melihatnya kembali membuat saya teringat bagaimana setiap website memiliki karakter tersendiri. Ada yang lebih berfokus pada konten, ada yang berisi kumpulan download, dan ada pula yang menjadi tempat menampilkan berbagai tautan serta informasi.
Saya juga menemukan kembali versi Molibagu yang pernah saya buat di MyWibes.

Susunannya cukup berbeda. Games dan aplikasi berada dekat bagian atas, kemudian diikuti rating, pencarian, Comments, dan Friends. Fasilitas tersebut membuat website terasa lebih interaktif karena pengunjung memiliki beberapa cara untuk berpartisipasi.
Ada kepuasan tersendiri ketika bisa memiliki beberapa website dengan tampilan dan fungsi yang berbeda. Apalagi semuanya dikerjakan dengan perangkat dan fasilitas yang saat itu masih sangat terbatas.
Menghubungkan website melalui backlink
Memiliki beberapa website juga membuat saya mulai memikirkan bagaimana semuanya bisa saling terhubung.
Salah satu cara yang cukup populer saat itu adalah memasang backlink dan banner di antara website. Saya menghubungkan website-website yang saya kelola melalui tautan, sehingga pengunjung dari Upick bisa menemukan Molibagu, Bolsel, dan halaman lainnya.
Masa ketika memasang banner di website lain, baik milik sendiri maupun milik orang lain, menjadi bagian menyenangkan dari aktivitas mengelola website.
Praktik ini bukan sekadar soal meningkatkan jumlah pengunjung. Ada kepuasan tersendiri ketika melihat semua website tersebut memiliki hubungan satu sama lain. Setiap banner dan tautan menjadi semacam navigasi yang menghubungkan bagian-bagian dari dunia digital yang sedang saya bangun.
Selain itu, buku tamu dan kolom komentar menjadi tempat pengunjung meninggalkan pesan. Website tidak hanya menjadi halaman yang saya kelola sendiri, tetapi juga tempat orang lain bisa datang, membaca, dan berinteraksi.
Jika dilihat sekarang, deretan banner kecil di bagian bawah halaman mungkin tidak terlihat istimewa. Namun, bagi saya, semuanya merupakan bagian dari identitas website-website tersebut.
Bolsel Blog Asyik: tempat belajar, berbagi, dan bercerita

Bolsel Blog Asyik adalah salah satu halaman lain yang pernah saya bangun dan kelola.
Di dalamnya, berbagai jenis tulisan bercampur menjadi satu. Ada artikel mengenai kode kesalahan web server, tugas membuat halaman HTML dengan dan tanpa CSS, lengkap dengan tautan source code, hingga sapaan sahur yang terasa sangat personal.
Sidebar-nya pun khas: kategori, Buku Tamu, dan Blogroll.
Jika dilihat dari sudut pandang sekarang, mungkin susunannya terlihat kurang teratur. Artikel teknis bercampur dengan tulisan sehari-hari, sementara tugas dan catatan pribadi berada di tempat yang sama.
Tetapi justru itulah yang membuat blog tersebut terasa hidup.
Dulu, saya tidak terlalu memikirkan apakah sebuah blog harus memiliki kategori yang sempurna atau apakah semua tulisannya harus berada dalam satu tema. Selama ada sesuatu yang ingin saya bagikan, saya akan menuliskannya dan mempublikasikannya.
Blog menjadi tempat untuk menyimpan apa yang sedang dipelajari, apa yang sedang dikerjakan, dan apa yang ingin dibagikan kepada orang lain.
Saya juga menemukan kembali beberapa tulisan lama di Blogger yang memperlihatkan ketertarikan saya terhadap dunia pemrograman.
Di UpicoS, ada tulisan mengenai phpDesigner, sebuah editor yang membantu pemula mengenal tag HTML. Sementara di blog p1x1q, terdapat tulisan tentang p1xP3rl untuk Android, yang membahas bagaimana menjalankan Perl melalui perangkat Android.
Membaca kembali judul-judul tersebut membuat saya tersenyum. Topiknya mungkin terlihat kecil, bahkan sederhana jika dibandingkan dengan teknologi yang kita gunakan sekarang.
Namun, setiap tulisan punya ceritanya sendiri. Ada rasa ingin tahu, ada sesuatu yang sedang dipelajari, dan ada keinginan untuk membagikan hasil percobaan kepada orang lain.
Mungkin memang seperti itulah proses belajar seharusnya dimulai: mencoba sesuatu, menemukan hal baru, kemudian membagikannya.
DCMS: Dunia Wapmaster yang penuh modifikasi
Bagi yang pernah mengenal dunia WAP dan Wapmaster, nama DCMS mungkin bukan sesuatu yang asing.
Pada masa itu, DCMS merupakan salah satu CMS yang populer di lingkungan Wapmaster. CMS (Content Management System) memungkinkan seseorang mengelola website tanpa harus membangun seluruh sistem dari nol.
DCMS tersedia dalam bentuk paket script yang dapat dipasang pada hosting sendiri. Setelah instalasi, pemilik website bisa mengatur halaman, mengelola konten, menambahkan fitur, dan mengubah tampilan sesuai keinginan.
Salah satu hal yang membuatnya menarik adalah kebebasan untuk melakukan modifikasi.
Ada istilah yang sangat akrab pada masa itu: script, mod, dan theme.
Kita bisa menemukan berbagai tambahan fitur, mengganti tampilan, memasang modifikasi dari orang lain, atau bahkan mencoba mengubah sendiri bagian-bagian script yang tersedia.
Halaman resmi DCMS sendiri memperlihatkan ekosistem yang cukup lengkap, mulai dari registrasi pengguna, mini chat, forum, download, hingga berbagi file.
Arsip berita DCMS juga menyimpan jejak aktivitas pengembangannya. Ada pengumuman DCMS Seven beta, berbagai mod dan tema untuk versi berbeda, hingga patch untuk versi 6.6.4 dan 6.7.7.
Melihat kembali arsip tersebut membuat saya teringat bahwa dunia Wapmaster bukan hanya tentang membuat halaman yang terlihat bagus. Ada proses belajar yang cukup teknis di baliknya.
Kita harus memahami bagaimana sebuah script bekerja, mencari mod yang cocok, memperhatikan kompatibilitas versi, hingga memperbaiki masalah ketika sesuatu tidak berjalan sebagaimana mestinya.
Kalau dipikir-pikir, kebiasaan mengutak-atik script dan mencoba berbagai modifikasi itulah yang membuat dunia Wapmaster terasa begitu menarik.
Setiap website bisa memiliki karakter yang berbeda, meskipun dibangun menggunakan CMS yang sama.
Wapka: Membuat website sendiri tanpa harus mengurus hosting
Selain DCMS, ada satu layanan yang juga cukup populer dan memiliki pendekatan berbeda: Wapka.
Jika DCMS mengharuskan pengguna memasang script pada hosting sendiri, Wapka menyediakan platform sekaligus hosting untuk membuat website.
Pengguna cukup mendaftar, mendapatkan alamat website, kemudian mulai mengelola halaman melalui fasilitas yang disediakan Wapka.
Bahkan, halaman utamanya secara khusus menawarkan pembuatan website WAP langsung dari ponsel.
Bagi orang yang mengandalkan HP untuk mengelola website, layanan seperti ini tentu sangat membantu.
Wapka juga bukan sekadar penyedia halaman statis. Di dalamnya tersedia berbagai fasilitas seperti forum, chat, pengelolaan pengguna, dan pengaturan tampilan.
Pengguna dapat mengatur bagian header dan footer agar muncul secara otomatis pada setiap halaman. Berbagai kebutuhan website bisa dikelola melalui editor dan pengaturan yang sudah disediakan.
Secara konsep, Wapka merupakan platform multi-tenant: satu layanan digunakan oleh banyak pemilik website, masing-masing dengan alamat dan ruang pengelolaannya sendiri.
Jika dibandingkan, DCMS dan Wapka memiliki pendekatan yang berbeda.
DCMS memberikan kebebasan lebih besar untuk mengelola script pada hosting sendiri. Sementara Wapka menawarkan kemudahan karena infrastruktur dan platform sudah disediakan.
Keduanya punya tempat tersendiri dalam perjalanan dunia WAP.
Yang menarik, Wapka juga menyediakan katalog website baru dan daftar TOP 20. Artinya, setelah berhasil membuat website, pengguna juga memiliki kesempatan untuk memperkenalkannya kepada pengunjung lain.
Kembali lagi ke satu hal yang menjadi perhatian saya saat itu: bagaimana caranya agar website yang dibuat tidak hanya menjadi halaman yang dikunjungi oleh pemiliknya sendiri.
Saya ingin ada orang lain yang datang, membaca, berkomentar, dan mengenal website tersebut.
Ketika website menjadi lebih dari sekadar halaman internet
Setelah membuka kembali berbagai arsip tersebut, saya mulai menyadari bahwa yang sebenarnya saya rindukan bukan hanya tampilan website lama.
Saya merindukan suasana di balik proses pembuatannya.
Masa ketika mengedit satu halaman dari HP sudah terasa seperti sedang mengerjakan sesuatu yang besar. Masa ketika mencari sinyal menjadi bagian dari rutinitas sebelum mulai bekerja. Masa ketika memasang banner di berbagai website, baik milik sendiri maupun milik orang lain, menjadi bagian menyenangkan dari aktivitas mengelola website.
Saya juga teringat bagaimana sebuah buku tamu bisa menjadi tempat bertemu. Bagaimana komentar sederhana dari pengunjung bisa membuat saya senang. Bagaimana sebuah backlink bisa membawa orang baru ke website yang saya bangun.
Mungkin bagi generasi sekarang, hal-hal tersebut terlihat biasa saja. Membuat website bisa dilakukan dengan berbagai framework, layanan cloud, platform no-code, dan bantuan AI. Hosting pun semakin mudah ditemukan dengan harga yang terjangkau.
Tetapi dulu, dengan perangkat dan fasilitas yang terbatas, saya tetap berusaha membuat sesuatu.
Tidak semuanya berhasil. Tidak semua website bertahan. Beberapa alamat mungkin sudah tidak aktif, beberapa gambar sudah hilang, dan sebagian besar percakapan mungkin tidak lagi bisa ditemukan.
Namun, jejaknya masih ada.
Wayback Machine menjadi semacam mesin waktu yang memungkinkan saya mengunjungi kembali halaman-halaman tersebut. Terkadang tampilannya tidak lengkap, ada gambar yang gagal dimuat, atau beberapa tautan yang sudah tidak berfungsi. Tetapi bahkan dari potongan-potongan yang tersisa, saya masih bisa mengenali banyak hal.
Saya tidak tahu apakah orang-orang yang dulu saling bertukar backlink masih mengingat masa itu. Apakah mereka masih menyimpan screenshot website lamanya, atau mungkin sudah lama melupakan alamat-alamat tersebut.
Yang jelas, bagi saya, halaman-halaman ini pernah menjadi bagian penting dari perjalanan belajar dan mengenal dunia internet.
Dari sana saya belajar membuat website, mengenal HTML, mencoba berbagai CMS, memahami cara kerja script, dan yang tidak kalah penting, belajar berbagi dengan orang lain.
Sebuah kenangan yang ingin tetap disimpan
Sekarang saya ingin mengumpulkan kembali alamat-alamat lama, tangkapan layar, dan apa pun yang masih bisa ditemukan dari masa tersebut.
Bukan untuk menghidupkan kembali desain WAP atau membuat semuanya terlihat seperti dulu. Saya hanya ingin menyimpan jejaknya, agar suatu hari nanti masih bisa dibuka dan dikenang.
Sebab, terkadang sesuatu yang terlihat kecil pada masanya ternyata memiliki arti yang besar ketika kita melihatnya kembali bertahun-tahun kemudian.
Mungkin Upick hanyalah sebuah website sederhana. Molibagu mungkin hanya kumpulan halaman WAP. Bolsel Blog Asyik mungkin hanya sebuah blog dengan berbagai tulisan yang bercampur.
Tetapi semua itu pernah menjadi tempat saya belajar, mencoba, berkarya, dan terhubung dengan orang lain.
Rasanya menyenangkan mengetahui bahwa sebagian kecil dari perjalanan tersebut masih tersimpan di internet, dan sekarang saya bisa membukanya kembali.
Terima kasih kepada internet, kepada orang-orang yang pernah saling bertukar backlink, meninggalkan komentar, dan menjadi bagian dari perjalanan kecil ini.
Ternyata, kita pernah punya dunia yang begitu menyenangkan di balik layar kecil sebuah HP.
Arsip dan referensi
Berikut beberapa alamat yang berhasil saya temukan kembali. Sebagian merupakan arsip dari Wayback Machine, sementara beberapa lainnya berasal dari blog lama.
Website WAP dan komunitas
Blog dan catatan pribadi
Platform dan CMS
Arsip lainnya yang belum sepenuhnya ditemukan
- adlisaleh.wapka.mobi
- upick.wapka.mobi
Beberapa URL dan nama penyedia hosting gratis yang dulu saya gunakan untuk DCMS masih berusaha saya ingat kembali. 😁